Friday, February 09, 2007 |
BUNUH AKU
|
selayak benturan yang sedemikian dahsyat menggoncang tebing dan dinding bukit bukit jiwa pada suatu masa yang terhenti
di saat itu, ia sang lelaki segera tertawan dalam bayang bayang gemuruh merangkainya menjadi bait bait sajak yang hijau
di waktu malam, lanskap hitam membentang menjadi permadani acap kali ditatapnya langit seperti mencari sesuatu yang selalu ia nanti
di saat itu, ia sang lelaki ditawan kobaran api dalam dadanya sendiri dan sebuah bintang cemerlang tak lekang dari poros mata tangannya menggapai cakrawala seperti mencoba meraih entah
dan masa kembali terhenti lanskap hitamnya membentang lagi menjadi permadani
di saat itu, ia sang lelaki sudah tak tampak lagi seluruh jiwanya tertutup bunga bunga api dibalut sajak keinginan yang bertubi tubi
dalam sesak yang nyaris tak berbentuk yang mengendap menjadi sepi ia, sang lelaki pada bintang cemerlangnya mengenang lirih,
raih tangan ini, kau ksatria ruhku bakar dan hanguskan jiwa ini dengan matamu atau hunjamkan pisau itu di sini... tikam dalam dalam sampai di pusat hati bunuh aku dengan cintamu hingga ke hulu!
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|