Friday, February 09, 2007 |
TANPA JUDUL
|
berhamburan kisah hari di tikungan jalan yang belum benar terang. alangkah rahasia benang benang nasib. ketika kutangkap tanda dari mata, aku menelisik apa yang mungkin tersimpan di kedalaman hati yang memilikinya. dan 'tika tampak pula apa yang tak mampu dirahasiakan hatinya, maka pada matamu aku tuliskan ribuan sajak yang hampir tanpa akhiran. kata kataku mengalirkan bunga dan wewangi, menyanjungmu dalam desah angin pagi dan kepak sayap seribu burung dan kupu kupu, seribu warna pada tiap helai bulu bulunya.
alangkah rahasia benang benang nasib. aku menyerap cintamu sedalam sesak dada yang risau. kau jadi udara yang membuatku tetap hidup. dan 'tika kaudedah aku dengan percik percik pertanyaan itu, maka telah kaubuat pula keseimbangan hidup menjadi goyah.
maka kukejar dimanakah gerangan matamu. kutelisik kembali hatimu dengan rindu. seribu tanya pun tumbuh, membelukar, bercabang dan semakin sarat beranting semak, kering dan membaharu.
ah. kau jadi udara yang beracun jadinya. mataku nanar silau merah. memburu, meningkahi apa saja. ketenangan raib di ubun ubun senja, aku berteriak menuding kiraban mega mega, kekasihku, dimana kau menyembunyikannya?!
aku terjatuh di kaki bukit tandus itu dan mengenangmu di bawah pohon randu yang sepi: masihkah kaupeluk mimpimu, dengan seorang lelaki yang menyematkan bunga di telinga dan membacakan sebuah puisi di malam malam yang terjaga
kekasihku.
malang 5 agustus 05 |
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|