Friday, February 09, 2007 |
PUISI CINTA YANG TERJAGA
|
sayang, aku cintai kamu seperti pagi dan rasa berat di mataku ini. aku dambai kamu seperti kopi di gelas butut yang temaniku begadang semalaman ini
dan atas alasan ini pulalah kenapa mataku tak pejam, menolak mimpi lurusnya pematang perjalanan di saat malaikat di jiwa sendiri tak berkenan
sayang, cerahnya pagi dan mata yang menuntut jedah panjang peristirahatan adalah kejelasan tuntutan lenyapnya matahari pagi. akan aku lewatkan kicau burung dan orang orang yang bergegas ke tempat kerja.
kopi di gelas ini selalu terbagi dalam sari yang mengendap, terpisah dengan airnya. meski mereka telah menyatu, tapi sari tak pernah menjadikannya benar benar air. ia adalah bagian dari kopi di gelas ini pula
lalu bagaimana aku mampu biarkan diri mencintai jika aku sendiri tegak di ujung terjalan sebelum membuatmu mengerti, bahwa aku masih belum menerima kewajaran yang selalu tak pernah kuanggap wajar dan pasti.
bunga tak pernah tumbuh di tanah yang tak menumbuhkan bunga. cinta terbit di atas kesepadanan rasa dan keseimbangan pernyataannya atas ruas jalan yang mungkin ia dedah.
dan seperti pagi ini juga, berat mata dan segelas kopi jangan jadikan puisi tak lagi terjaga. kitapun musti merdeka.
malang 17 juli 05
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|