Friday, February 09, 2007 |
SETELAH PERNAH KUTATAP MATAMU
|
setelah pernah kutatap matamu maka bayang-bayang wajahmu tertinggal di kelopak mataku
dan hingga kendati begitu kencangnya aku berlari dan bersembunyi di semak-semak yang tertutup tebing tinggi senyum dan tawamu tetap saja tak kuasa kutepis
enkau hadir selayak matahari di setiap pagi dan kepekatan tatkala siang pun berganti
dan andai kau raih tanganku saat kurapatkan degub jantung di geladak pantaimu maka hariku adalah bunga hingga tak perlu aku berlari dan bersembunyi sebab senyum dan tawamu pastilah kunikmati
tapi ketika kudapati kau sekedar tersipu kecil sembari memalingkan wajahmu serta lalu keuceritakan tentang taman yang kaurindu maka rintihlah aku hingga terasa begitu getirnya menatap senyum dan tawamu sebab ia pastilah bukan untukku
lalu malam pun menyergap tiba-tiba dan aku benar-benar kehilangan kemampuan untuk tersenyum dan tertawa dan ketika kau pergoki kehancuranku saat itulah aku menjelma teror di matamu kaugeser palingkan pualammu
aku berdiri salah tingkah “kenapa begini akhirnya…”, tanya batinku tak mengerti
bukankah aku adalah kembara yang menanggungkan rasa sakit atas cerita tangkai bunga yang pernah retas, hingga pula telah kuhisap bunga-bunga liar di sepanjang jalan dan lalu kudengar burung gereja bernyanyi di pagi hari kabarkan padaku akan kedatanganmu
dan saat itulah kulihat engkau dengan tatap bersahaja hingga lalu kutinggalkan bayang-bayang masa lalu dan kuhampiri engkau untuk kembali belajar membelai tanganmu
dan setelah pernah kutatap matamu dalam-dalam maka wajahmu pun tertinggal di kelopak mataku
dan hingga kendati begitu kencangnya aku berlari dan bersmbunyi senyum dan tawamu tetap saja tak kuasa kutepis
jombang, 5 desember 2003
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|